Purwa Kelana : Kutemukan Ibu


                                                                                                                       Cimahi, 13 Oktober 2018


    Seperti Merapi yang tak pernah ingkar janji, begitupula Burangrang yang tak pernah pudar

kasih sayang. Gunung api mati yang jaraknya paling dekat dengan kediamanku ini selalu saja

tampak gagah. Ia tak begitu istimewa, tapi entah mengapa teduhnya begitu menarik jiwaku

untuk selalu kembali menikmati sunyi di tubuhnya. Entah bagaimana, kemanapun aku pergi

ia selalu saja terlihat. Dari rumah.. Dari pasar.. Dari tempat kerja.. Dari jembatan Cimindi..

Dari rooftop mall, dari mana saja, ia masih saja terlihat gagah berpundak awan di tubuh

rimbunnya. Betapa bahagianya ia ditakdirkan Tuhan untuk setia mendampingi Tangkuban

Parahu yang menyemangati dan berada disisinya selalu. Bagiku, keduanya adalah sepasang

yang saling. Saat perut Tangkuban Parahu bergejolak, Burangrang turut merasakan

guncangan sakitnya serta kepulan aroma belerang yang menyelimuti dirinya. Kaki-kaki yang

saling bertemu bergandengan menjadi lahan yang menandai kesejahteraan pasukan tani,

atau juga sesiapa saja yang mau mengambil manfaat dari keduanya. Keduanya dihubungkan

oleh kepercayaan yang berpenghulu pada legenda yang sama, mengalir jejak rintik coretan

sejarahnya pada sungai-sungai jernih nan segar, untuk kemudian bermuara dan menghidupi

perkotaan sebagai wujud kasih sayang Tuhan.

    Dulu, hutan di pegunungan bagiku rasanya tampak mengerikan. Gelap, lembab, berbau

segala rupa, banyak nyamuk, hewan liar, berbahaya, dan segala kemungkinan hal buruk

lainnya yang akhirnya menyulut nalarku untuk mencetuskan sebuah kesimpulan bahwa

hutan bukanlah tempat yang nyaman, sekalipun aku teramat suka pepohonan. Padahal, aku

anak Pramuka yang sering berkegiatan di luar dan berinteraksi dengan alam, lingkungan

tempatku menghabiskan hidup juga didominasi oleh pepohonan, kebun sayur, juga kebun

bambu yang gelap dengan jalan setapak yang setiap hari wajib kulewati sebagai rutinitas

pulang pergi sekolah, sejak SD sampai SMP. Untuk yang ini, aku masih bisa menikmatinya,

tapi khusus untuk hutan di pegunungan aku hanya suka memandangnya dari kejauhan,

tanpa pernah terpikir untuk menyambanginya.

Sampai pada suatu hari Tetehku bersama serombongan orang-orang di kampungku yang

terbiasa pergi ke hutan untuk self-recharging, saat itu berencana untuk menyambangi

Tangkuban Parahu lewat Jayagiri, Lembang. Bapak juga ikut. Aku? tentu saja tak ikut. Selain

karena tak di izinkan Bapak, karena katanya aku masih kecil (saat itu kelas 6 SD), aku hanya

heran, bagaimana bisa orang menyebutnya refreshing, recharging, atau apalah mereka

menyebutnya, ke tempat yang menurutku hanya akan menambah stress dan lelah tubuh?

Apa iya bisa? Ah aku tak mau peduli, paling setelah pulang juga Tetehku akan mengeluh

karena kelelahan dan pegal-pegal. Yash, dan benar saja dugaanku, rupa-rupanya Tetehku

pingsan diperjalanan saat turun. Selain karena kondisi kesehatannya yang kurang baik, ia

juga bukan orang yang suka berolahraga atau membiasakan tubuhnya berkeringat dan

mengikuti kegiatan melelahkan, jadi wajar saja jika ia pingsan, dan ini juga pertama kalinya

ia berjalan jauh. Bapak agak khawatir dan menyarankan agar lain kali tidak perlu

memaksakan diri ikut jika kondisi tubuhnya memang tidak baik.


    Awalnya aku merasa kasihan melihat kondisinya yang dibopong-bopong orang saat tiba

pulang ke rumah, pasalnya ia memang jarang sekali melakukan hal yang melelahkan

semacam ini. Tapi setelah melihat ia begitu bersemangat, saat kondisinya sudah membaik ia

terlihat sangat bahagia ketika menceritakan apa saja yang ia temui di hutan serta keseruan

yang tak ada habisnya bersama rekan-rekan seperjalanan. Aish ia benar-benar antusias saat

bercerita, semua kata-katanya seolah menghipnotisku untuk turut serta, memaksa nalarku

untuk meruntuhkan kesimpulanku sendiri tentang hutan yang mengerikan. Aih parahnya

aku semakin dibuat penasaran, entah bagaimana aku jadi ingin pergi ke hutan. Ha? Aku

pergi ke hutan? Yakin? Hmm entahlah.

    Dan perempuan kecil ini benar-benar ikut ke hutan satu tahun kemudian. Aku hampir tak

percaya, tapi, aku benar-benar ikut dengan membawa sekantong penasaran dan juga sedikit

rasa takut, perasaan yang berkecamuk. Itu adalah kali pertama aku menginjakan kaki di

hutan belantara. Bersama Bapak, dan pemuda-pemuda kampung yang lain, saat itu masih

dalam suasana libur Idul Fitri, sehingga aku melihat ada beberapa pendaki lain yang

mungkin memanfaatkan waktu liburnya juga, serta beberapa turis asing yang beranjak turun

sepertinya sudah bermalam disana. Perjalanan ke gunung yang sama, dengan jalur yang

sama, tapi Teteh tidak ikut, mungkin dia kapok. Perlahan aku berjalan di barisan

kelompokku, memerhatikan sekeliling dengan degup jantung tak karuan, tampak mentari di

garis timur mengintip dari balik reranting pinus dan ilalang, seperti menertawakan. Perlahan

namun pasti, aku menenangkan jiwaku sendiri, mengakrabkan diri dengan vegetasi alami

yang ada, sesekali bertemu dengan hewan-hewan yang belum pernah kujumpai

sebelumnya, suara-suaranya, nyanyian alamnya, yash, dan benar saja, aku benar-benar

mematahkan kesimpulanku sendiri, membunuh rasa takutku sendiri, dan membayar seluruh

rasa penasaranku tuntas di hari itu juga. Whaa bagaimana ini? Aku terperangah, nalarku

merubah kesimpulan yang lama menjadi cinta, rasa takut pun berubah menjadi rindu. Jalur

pendakian, rimbun pepohonan, aroma tumbuhan, akar-akar yang saling menyilang, aroma

belerang, segala vegetasi dan apa-apa saja tentangnya benar-benar memaksaku candu

untuk kembali. Kau tahu rasanya jatuh cinta pada saat pandangan pertama? Nah begitulah

aku pada hutan saat itu. Entah bagaimana, aku merasa sangat jatuh cinta kala itu. Sejak saat

itulah aku percaya mengapa orang-orang bisa menyebut perjalanan yang melelahkan ini

sebagai recharging, kurasa semesta membagi energinya dan memberi ruang bagi jiwa-jiwa

pembelajar yang ingin terus berproses dan membuka diri untuk mau dijejali bahan

pemikiran. Aku benar-benar merasa nyaman dan tak ada habisnya dibuat takjub oleh hutan

sepanjang perjalanan, benar-benar mahakarya Tuhan yang tak layak kulewatkan. Sejak saat

itu aku membuat kesimpulan baru bahwa hutan bagiku adalah tempat soul-healing kedua

setelah yang nomor satunya adalah masjid.


    Dan kurasa aku benar-benar dibuat candu oleh kesunyian hutan, aktivitasku main ke alam bebas

menjadi lebih sering, aku pun selalu ikut rutinitas tahunan ke Tangkuban Parahu. Lalu

gunung kedua yang kusinggahi hutannya tentu saja Burangrang, yang terdekat. Setiap kali

aku merasa jiwaku kering, dua hal yang ku lakukan adalah pergi ke masjid-masjid sekadar

numpang salat, tilawah, beruntung jika sedang ada kajian lalu merenung dan memerhatikan

orang-orang atau pergi ke hutan sekadar merebahkan diri diantara sunyi yang mendekap,

merenungi diri, memungut sampah yang terlihat mengotori, ditemani beberapa potong

puisi yang kuracik seadanya lalu pulang dengan dada yang amat lapang. Agak sulit memiliki

kawan yang juga senang bertualang saat itu, aku hanya punya satu, saudara, yang biasa

menghabiskan waktu bersama untuk pergi ke berbagai tempat, tak jarang juga aku

melakukannya sendiri saja, sunyi, aku masih sangat awam dan merasa perlu wadah untuk

terus mengekplorasi hal-hal semacam ini, tapi tak kunjung jua kutemukan hingga saat ini.

2015, adalah kali terakhir aku ke Tangkuban Parahu, sisanya aku lebih sering menyambangi

Burangrang saat kurasa aku perlu.


    Sering kali aku mengunjunginya, tapi tak pernah tau bagaimana rupa puncaknya, sampai di

suatu kesempatan, aku bersama dua saudara perempuanku berencana pergi ke hutan pinus

di lereng Burangrang sekadar memasang hammock diantara pohon pinus dan berbagi kisah,

namun dengan jalur yang berbeda, bukan yang biasa kulewati jika pergi ke Burangrang

meskipun awalnya tetap sama lewat Komando, Cisarua. Hanya berbekal air minum 450ml,

buku fiksi untuk bacaan dan alat tulis dalam tas ransel kecil, kami berangkat dari rumah

tanpa sarapan. Sedikit apatis pada perut memang, tapi demi menghindari risiko, kami pun

mampir di warung kecil yang berada di kaki gunung Burangrang sekadar makan beberapa biji

gorengan untuk mengganjal perut seadanya. Tepat saat kami bertiga hendak beranjak dari

warung, seorang teman pria dari salah satu saudaraku menghubungi bahwa dia ingin ikut,

katanya dia sudah hampir sampai di lokasi kami dan juga membawa serta 3 saudaranya.

Sebenarnya agak malas, karena rencananya hanya ingin kami bertiga perempuan saja,

menikmati Q-time kami, tapi tak apalah, lebih banyak orang mungkin akan lebih seru.

Setelah menitip motor di lumbung sayur milik warga setempat, kami memulai perjalanan

memasuki hutan lewat perkebunan warga Cijanggel, ditengah perjalanan kami terhenti oleh

seorang Bapak setengah baya yang menginterogasi kami, dan meminta uang rokok sebagai

izin untuk masuk. Tak ingin banyak mikir dan buang waktu kami pun membayarnya. Ia

mengingatkan bahwa di dalam hutan sedang ada TNI yang berlatih dan mengatakan agar

kami berhati-hati. Kami memanggut dan berterima kasih sebelum kemudian melanjutkan

perjalanan. Jika kuperhatikan, Bapak itu hanya tampak seperti petani biasa, ia bukan dari

anggota TNI, dari gelagatnya juga ia bukan pengelola Gunung Burangrang. Ah biarlah. Waktu

menunjukan pukul 8 pagi, kami mulai memasuki hutan. Sebelum memasuki hutan terlihat

masjid yang cukup besar di bagian atas perkebunan, rasanya damai, asri dan sejuk

dipandang. Terdengar sayup-sayup suara merdu lantunan ayat suci Al-Quran, yang memang

di situ adalah pesantren tempat para santri penghapal Al-Quran. Indahnya.

Kami terus berjalan melanjutkan perjalanan, sambil bersenda gurau mengakrabkan diri

sebab kami tak saling kenal selain saudaraku dengan teman prianya. Satu jam berlalu kami

sampai di hutan pinus, merebahkan diri beristirahat, minum dan mengobrol. Teman baru

kami sempat mengajak ke puncak sambil bercanda menawarkan, tapi kami bilang tidak mau,

kami hanya akan menikmati hutan pinus saja. Selang beberapa menit, setelah hampir

tertidur karena hembusan angin yang sejuk, aku berniat memasang hammock dan memilah

pohon mana yang cocok, namun tiba-tiba ada seorang lelaki yang mendaki seorang diri

menghampiri kami, kira-kira usianya antara 23-25 tahun. Ia benar-benar seorang diri,

berangkat dari Cimahi katanya rindu pada Burangrang, ia sudah biasa pergi ke hutan

sendiri, dia seorang Pramuka dan anggota dari komunitas pecinta alam di daerahnya.

Setelah beberapa menit saling berkenalan, ia mengajak kami semua untuk menemaninya ke

puncak. Hal yang sedari tadi kami perdebatkan, aku dan dua saudaraku menolak, kami akan

tetap di hutan pinus. Ah tapi merka terus saja merayu, meski sudah berbagai alasan kami

lemparkan untuk tetap menikmati waktu kami. Yap, baiklah kami mengalah dan ikut

melanjutkan perjalanan menuju puncak.

    Pukul 9.30 kami berdelapan, bergerak menyusuri hutan Burangrang lebih dalam, aku

menemui vegetasi yang berbeda dari sebelumnya, hutan pinus berganti pohon-pohon kayu

tinggi besar, rimbun dan gelap. Semakin dalam kami berjalan rasanya pepohonan semakin

rapat, laju kaki sedikit melambat karena akar-akar napas yang terjuntai di sepanjang jalur,

akar tanah yang saling menyilang dan beberepa pohon tumbang seperti mengepung kami.

Sesekali kami beristirahat dan bertemu pendaki lain dari arah berlawanan, saling sapa dan

berkenalan. Itu salah satu seninya naik gunung yang kusukai, kesetaraan dan persaudaraan

yang kental, tanpa peduli bagaimana latar belakang. Ada serombongan anak pesantren yang

baru selesai kemah dan berjalan sambil muraja’ah (mengulang) hafalan Al-Qur’an, ada

rombongan bapak-bapak yang sepanjang perjalanan memutar mp3 sholawat, hmm

pemandangan yang cukup menyentil ruhiahku. Aku terperangah saat mulai melanjutkan

perjalanan dan melihat kontur jalan, benarkah ini Burangrang? Jalan menanjak dengan

kemiringan yang tak memberi ampun, atau kami saja yang salah jalur? Kombinasi batuan,

tanah kering berdebu dan akar yang saling menyilang tak beraturan, lengkap sudah menjadi

satu paket yang menguras tenaga dan mempersempit ruang bernapas. Perlahan tapi terus

bergerak, satu sama lain kami saling menyemangati meski napas tersenggal dan lutut terus

saja berbenturan dengan dagu. Dan tidak hanya satu, kami melewati empat tanjakan serupa

sebelum sampai ke puncak. Dua jam berlalu, terlihat samar-samar Situ Lembang di balik

dedaunan dan kabut tebal, padahal cuaca sangat cerah saat kami naik, namun saat

mendekati puncak tiba-tiba kabut tebal menyelimuti tubuh Burangrang, gerimis manis

menyapa sebentar dan mengantarkan kami tiba di Puncak Meong, Puncak Triangulasi pun

melambai yang memerlukan waktu 5 menit lagi untuk sampai.

    Kami pun tiba di Puncak Triangulasi bertepatan dengan berkumandangnya adzan dzuhur,

tak ada siapa-siapa selain kami berdelapan dan kabut tebal yang mengepung di sekeliling

dengan jarak pandang hanya 5 meter saja, tak ada pemandangan yang terlihat. Kami

memulihkan napas sambil menghabiskan satu bungkus biskuit yang dibawa saudaraku,

untunglah ada pengganjal, sebab masing-masing perut kami sudah keroncongan dan tak

berbekal apapun selain minum. Kami memutuskan tak akan berlama-lama dipuncak untuk

melaksanakan sholat dzuhur di masjid yang ada di bawah, selain karena tak membawa

peralatan salat, persediaan air pun sudah habis dan cuaca yang kurang baik mengurungkan

niat kami untuk melaksanakan salat di puncak, serta memperkirakan waktu tempuh untuk

turun akan lebih cepat dibandingkan naik. Saat hendak beranjak, seorang bapak tiba dari

jalur Legok Haji seorang diri, ramah tuturnya menyapa kami, hanya berbekal air minum 1,5

liter dan memutar mp3 murratal tilawah Al-Qur’an sepanjang perjalanan. Ada yang masih

selalu kuingat sampai saat ini, sebelum kami turun ia berkata “Kalau sudah senang naik

gunung, coba rutinkan minimal setahun sekali agar otot-ototnya terlatih dan tidak kaku.

Sering-sering tafakur, supaya ada oleh-oleh pulang ke rumah gak cuma bawa capek aja.

Satu pohon punya banyak daun, kita bikin satu aja gak bisa ya? Maha Besar Allah yang

menciptakan segalanya begitu sempurna, setiap daun yang jatuh, kering dan basahnya

Allah tau, apa yang sering kita khawatirkan tentang hidup? Padahal semua telah diatur

sempurna oleh Sang Pencipta, tinggal kita yakin dan patuh saja, kan?”. Lalu ia

melaksanakan salat di puncak sendirian dan kami lekas turun sebab gerimis kembali

menerjang.


    Dan lalu, ini hanya interpretasi dari seorang aku yang amat awam dan fakir ilmu, sejak

perjalananku pertama kali ke hutan 2011 lalu, aku merasa hutan tak sekedar tanah luas

yang ditumbuhi pepohonan dan rupa-rupa vegetasi, ragam fauna dan nyanyian alam, lebih

dari itu, aku merasa hutan adalah Ibu yang mengasuh jiwaku, mengajarkanku, mengasah

nalarku, juga menyembuhkan segala bentuk lukaku. Sebab inikah Tuhan menjemput Ibuku

lebih dulu 2010 lalu? Walau kini kesan gunung tak lebih dari studio foto dan spot selfieable

demi menaikan feeds media sosial, tapi aku yakin, masih ada jiwa-jiwa tulus yang

menyambangi gunung sebab hasrat dan cinta, bukan pencitraan semata. Bagaimanapun,

diyakini atau tidak, gunung telah ikut serta membangun karakter pribadiku yang sekarang,

setiap perjalanan memberiku pelajaran baru dan mengubah cara pandangku tentang hidup

dengan segala problematikanya. Perjalanan ke puncak Burangrang yang berkesan

mendorongku untuk terus melakukan perjalanan ke lebih banyak tujuan, bagiku perjalanan

kala itu tak seperti sedang naik gunung, aku merasa sedang wisata rohani menuju jamuan

rahmat Tuhan dan berpulang dengan beragam kebaikan yang harus disebarkan kepada

sebanyak-banyaknya makhluk, dalam bentuk apapun. Dan kemudian aku hanya ingin terus

berjalan mencari manik-manik makna kehidupan, perlahan-lahan menuju apa-apa saja yang

ingin kutemukan, dengan sebersih-bersihnya hati yang terus dirawat, semoga sampai tujuan

dengan selamat. 

Komentar

Postingan Populer