Purwa Kelana : Kutemukan Ibu
Seperti Merapi yang tak pernah ingkar janji, begitupula Burangrang yang tak pernah pudar
kasih sayang. Gunung api mati yang jaraknya paling dekat dengan kediamanku ini selalu saja
tampak gagah. Ia tak begitu istimewa, tapi entah mengapa teduhnya begitu menarik jiwaku
untuk selalu kembali menikmati sunyi di tubuhnya. Entah bagaimana, kemanapun aku pergi
ia selalu saja terlihat. Dari rumah.. Dari pasar.. Dari tempat kerja.. Dari jembatan Cimindi..
Dari rooftop mall, dari mana saja, ia masih saja terlihat gagah berpundak awan di tubuh
rimbunnya. Betapa bahagianya ia ditakdirkan Tuhan untuk setia mendampingi Tangkuban
Parahu yang menyemangati dan berada disisinya selalu. Bagiku, keduanya adalah sepasang
yang saling. Saat perut Tangkuban Parahu bergejolak, Burangrang turut merasakan
guncangan sakitnya serta kepulan aroma belerang yang menyelimuti dirinya. Kaki-kaki yang
saling bertemu bergandengan menjadi lahan yang menandai kesejahteraan pasukan tani,
atau juga sesiapa saja yang mau mengambil manfaat dari keduanya. Keduanya dihubungkan
oleh kepercayaan yang berpenghulu pada legenda yang sama, mengalir jejak rintik coretan
sejarahnya pada sungai-sungai jernih nan segar, untuk kemudian bermuara dan menghidupi
perkotaan sebagai wujud kasih sayang Tuhan.
Dulu, hutan di pegunungan bagiku rasanya tampak mengerikan. Gelap, lembab, berbau
segala rupa, banyak nyamuk, hewan liar, berbahaya, dan segala kemungkinan hal buruk
lainnya yang akhirnya menyulut nalarku untuk mencetuskan sebuah kesimpulan bahwa
hutan bukanlah tempat yang nyaman, sekalipun aku teramat suka pepohonan. Padahal, aku
anak Pramuka yang sering berkegiatan di luar dan berinteraksi dengan alam, lingkungan
tempatku menghabiskan hidup juga didominasi oleh pepohonan, kebun sayur, juga kebun
bambu yang gelap dengan jalan setapak yang setiap hari wajib kulewati sebagai rutinitas
pulang pergi sekolah, sejak SD sampai SMP. Untuk yang ini, aku masih bisa menikmatinya,
tapi khusus untuk hutan di pegunungan aku hanya suka memandangnya dari kejauhan,
tanpa pernah terpikir untuk menyambanginya.
Sampai pada suatu hari Tetehku bersama serombongan orang-orang di kampungku yang
terbiasa pergi ke hutan untuk self-recharging, saat itu berencana untuk menyambangi
Tangkuban Parahu lewat Jayagiri, Lembang. Bapak juga ikut. Aku? tentu saja tak ikut. Selain
karena tak di izinkan Bapak, karena katanya aku masih kecil (saat itu kelas 6 SD), aku hanya
heran, bagaimana bisa orang menyebutnya refreshing, recharging, atau apalah mereka
menyebutnya, ke tempat yang menurutku hanya akan menambah stress dan lelah tubuh?
Apa iya bisa? Ah aku tak mau peduli, paling setelah pulang juga Tetehku akan mengeluh
karena kelelahan dan pegal-pegal. Yash, dan benar saja dugaanku, rupa-rupanya Tetehku
pingsan diperjalanan saat turun. Selain karena kondisi kesehatannya yang kurang baik, ia
juga bukan orang yang suka berolahraga atau membiasakan tubuhnya berkeringat dan
mengikuti kegiatan melelahkan, jadi wajar saja jika ia pingsan, dan ini juga pertama kalinya
ia berjalan jauh. Bapak agak khawatir dan menyarankan agar lain kali tidak perlu
memaksakan diri ikut jika kondisi tubuhnya memang tidak baik.
Awalnya aku merasa kasihan melihat kondisinya yang dibopong-bopong orang saat tiba
pulang ke rumah, pasalnya ia memang jarang sekali melakukan hal yang melelahkan
semacam ini. Tapi setelah melihat ia begitu bersemangat, saat kondisinya sudah membaik ia
terlihat sangat bahagia ketika menceritakan apa saja yang ia temui di hutan serta keseruan
yang tak ada habisnya bersama rekan-rekan seperjalanan. Aish ia benar-benar antusias saat
bercerita, semua kata-katanya seolah menghipnotisku untuk turut serta, memaksa nalarku
untuk meruntuhkan kesimpulanku sendiri tentang hutan yang mengerikan. Aih parahnya
aku semakin dibuat penasaran, entah bagaimana aku jadi ingin pergi ke hutan. Ha? Aku
pergi ke hutan? Yakin? Hmm entahlah.
Dan perempuan kecil ini benar-benar ikut ke hutan satu tahun kemudian. Aku hampir tak
percaya, tapi, aku benar-benar ikut dengan membawa sekantong penasaran dan juga sedikit
rasa takut, perasaan yang berkecamuk. Itu adalah kali pertama aku menginjakan kaki di
hutan belantara. Bersama Bapak, dan pemuda-pemuda kampung yang lain, saat itu masih
dalam suasana libur Idul Fitri, sehingga aku melihat ada beberapa pendaki lain yang
mungkin memanfaatkan waktu liburnya juga, serta beberapa turis asing yang beranjak turun
sepertinya sudah bermalam disana. Perjalanan ke gunung yang sama, dengan jalur yang
sama, tapi Teteh tidak ikut, mungkin dia kapok. Perlahan aku berjalan di barisan
kelompokku, memerhatikan sekeliling dengan degup jantung tak karuan, tampak mentari di
garis timur mengintip dari balik reranting pinus dan ilalang, seperti menertawakan. Perlahan
namun pasti, aku menenangkan jiwaku sendiri, mengakrabkan diri dengan vegetasi alami
yang ada, sesekali bertemu dengan hewan-hewan yang belum pernah kujumpai
sebelumnya, suara-suaranya, nyanyian alamnya, yash, dan benar saja, aku benar-benar
mematahkan kesimpulanku sendiri, membunuh rasa takutku sendiri, dan membayar seluruh
rasa penasaranku tuntas di hari itu juga. Whaa bagaimana ini? Aku terperangah, nalarku
merubah kesimpulan yang lama menjadi cinta, rasa takut pun berubah menjadi rindu. Jalur
pendakian, rimbun pepohonan, aroma tumbuhan, akar-akar yang saling menyilang, aroma
belerang, segala vegetasi dan apa-apa saja tentangnya benar-benar memaksaku candu
untuk kembali. Kau tahu rasanya jatuh cinta pada saat pandangan pertama? Nah begitulah
aku pada hutan saat itu. Entah bagaimana, aku merasa sangat jatuh cinta kala itu. Sejak saat
itulah aku percaya mengapa orang-orang bisa menyebut perjalanan yang melelahkan ini
sebagai recharging, kurasa semesta membagi energinya dan memberi ruang bagi jiwa-jiwa
pembelajar yang ingin terus berproses dan membuka diri untuk mau dijejali bahan
pemikiran. Aku benar-benar merasa nyaman dan tak ada habisnya dibuat takjub oleh hutan
sepanjang perjalanan, benar-benar mahakarya Tuhan yang tak layak kulewatkan. Sejak saat
itu aku membuat kesimpulan baru bahwa hutan bagiku adalah tempat soul-healing kedua
setelah yang nomor satunya adalah masjid.
Dan kurasa aku benar-benar dibuat candu oleh kesunyian hutan, aktivitasku main ke alam bebas
menjadi lebih sering, aku pun selalu ikut rutinitas tahunan ke Tangkuban Parahu. Lalu
gunung kedua yang kusinggahi hutannya tentu saja Burangrang, yang terdekat. Setiap kali
aku merasa jiwaku kering, dua hal yang ku lakukan adalah pergi ke masjid-masjid sekadar
numpang salat, tilawah, beruntung jika sedang ada kajian lalu merenung dan memerhatikan
orang-orang atau pergi ke hutan sekadar merebahkan diri diantara sunyi yang mendekap,
merenungi diri, memungut sampah yang terlihat mengotori, ditemani beberapa potong
puisi yang kuracik seadanya lalu pulang dengan dada yang amat lapang. Agak sulit memiliki
kawan yang juga senang bertualang saat itu, aku hanya punya satu, saudara, yang biasa
menghabiskan waktu bersama untuk pergi ke berbagai tempat, tak jarang juga aku
melakukannya sendiri saja, sunyi, aku masih sangat awam dan merasa perlu wadah untuk
terus mengekplorasi hal-hal semacam ini, tapi tak kunjung jua kutemukan hingga saat ini.
2015, adalah kali terakhir aku ke Tangkuban Parahu, sisanya aku lebih sering menyambangi
Burangrang saat kurasa aku perlu.
Sering kali aku mengunjunginya, tapi tak pernah tau bagaimana rupa puncaknya, sampai di
suatu kesempatan, aku bersama dua saudara perempuanku berencana pergi ke hutan pinus
di lereng Burangrang sekadar memasang hammock diantara pohon pinus dan berbagi kisah,
namun dengan jalur yang berbeda, bukan yang biasa kulewati jika pergi ke Burangrang
meskipun awalnya tetap sama lewat Komando, Cisarua. Hanya berbekal air minum 450ml,
buku fiksi untuk bacaan dan alat tulis dalam tas ransel kecil, kami berangkat dari rumah
tanpa sarapan. Sedikit apatis pada perut memang, tapi demi menghindari risiko, kami pun
mampir di warung kecil yang berada di kaki gunung Burangrang sekadar makan beberapa biji
gorengan untuk mengganjal perut seadanya. Tepat saat kami bertiga hendak beranjak dari
warung, seorang teman pria dari salah satu saudaraku menghubungi bahwa dia ingin ikut,
katanya dia sudah hampir sampai di lokasi kami dan juga membawa serta 3 saudaranya.
Sebenarnya agak malas, karena rencananya hanya ingin kami bertiga perempuan saja,
menikmati Q-time kami, tapi tak apalah, lebih banyak orang mungkin akan lebih seru.
Setelah menitip motor di lumbung sayur milik warga setempat, kami memulai perjalanan
memasuki hutan lewat perkebunan warga Cijanggel, ditengah perjalanan kami terhenti oleh
seorang Bapak setengah baya yang menginterogasi kami, dan meminta uang rokok sebagai
izin untuk masuk. Tak ingin banyak mikir dan buang waktu kami pun membayarnya. Ia
mengingatkan bahwa di dalam hutan sedang ada TNI yang berlatih dan mengatakan agar
kami berhati-hati. Kami memanggut dan berterima kasih sebelum kemudian melanjutkan
perjalanan. Jika kuperhatikan, Bapak itu hanya tampak seperti petani biasa, ia bukan dari
anggota TNI, dari gelagatnya juga ia bukan pengelola Gunung Burangrang. Ah biarlah. Waktu
menunjukan pukul 8 pagi, kami mulai memasuki hutan. Sebelum memasuki hutan terlihat
masjid yang cukup besar di bagian atas perkebunan, rasanya damai, asri dan sejuk
dipandang. Terdengar sayup-sayup suara merdu lantunan ayat suci Al-Quran, yang memang
di situ adalah pesantren tempat para santri penghapal Al-Quran. Indahnya.
Kami terus berjalan melanjutkan perjalanan, sambil bersenda gurau mengakrabkan diri
sebab kami tak saling kenal selain saudaraku dengan teman prianya. Satu jam berlalu kami
sampai di hutan pinus, merebahkan diri beristirahat, minum dan mengobrol. Teman baru
kami sempat mengajak ke puncak sambil bercanda menawarkan, tapi kami bilang tidak mau,
kami hanya akan menikmati hutan pinus saja. Selang beberapa menit, setelah hampir
tertidur karena hembusan angin yang sejuk, aku berniat memasang hammock dan memilah
pohon mana yang cocok, namun tiba-tiba ada seorang lelaki yang mendaki seorang diri
menghampiri kami, kira-kira usianya antara 23-25 tahun. Ia benar-benar seorang diri,
berangkat dari Cimahi katanya rindu pada Burangrang, ia sudah biasa pergi ke hutan
sendiri, dia seorang Pramuka dan anggota dari komunitas pecinta alam di daerahnya.
Setelah beberapa menit saling berkenalan, ia mengajak kami semua untuk menemaninya ke
puncak. Hal yang sedari tadi kami perdebatkan, aku dan dua saudaraku menolak, kami akan
tetap di hutan pinus. Ah tapi merka terus saja merayu, meski sudah berbagai alasan kami
lemparkan untuk tetap menikmati waktu kami. Yap, baiklah kami mengalah dan ikut
melanjutkan perjalanan menuju puncak.
Pukul 9.30 kami berdelapan, bergerak menyusuri hutan Burangrang lebih dalam, aku
menemui vegetasi yang berbeda dari sebelumnya, hutan pinus berganti pohon-pohon kayu
tinggi besar, rimbun dan gelap. Semakin dalam kami berjalan rasanya pepohonan semakin
rapat, laju kaki sedikit melambat karena akar-akar napas yang terjuntai di sepanjang jalur,
akar tanah yang saling menyilang dan beberepa pohon tumbang seperti mengepung kami.
Sesekali kami beristirahat dan bertemu pendaki lain dari arah berlawanan, saling sapa dan
berkenalan. Itu salah satu seninya naik gunung yang kusukai, kesetaraan dan persaudaraan
yang kental, tanpa peduli bagaimana latar belakang. Ada serombongan anak pesantren yang
baru selesai kemah dan berjalan sambil muraja’ah (mengulang) hafalan Al-Qur’an, ada
rombongan bapak-bapak yang sepanjang perjalanan memutar mp3 sholawat, hmm
pemandangan yang cukup menyentil ruhiahku. Aku terperangah saat mulai melanjutkan
perjalanan dan melihat kontur jalan, benarkah ini Burangrang? Jalan menanjak dengan
kemiringan yang tak memberi ampun, atau kami saja yang salah jalur? Kombinasi batuan,
tanah kering berdebu dan akar yang saling menyilang tak beraturan, lengkap sudah menjadi
satu paket yang menguras tenaga dan mempersempit ruang bernapas. Perlahan tapi terus
bergerak, satu sama lain kami saling menyemangati meski napas tersenggal dan lutut terus
saja berbenturan dengan dagu. Dan tidak hanya satu, kami melewati empat tanjakan serupa
sebelum sampai ke puncak. Dua jam berlalu, terlihat samar-samar Situ Lembang di balik
dedaunan dan kabut tebal, padahal cuaca sangat cerah saat kami naik, namun saat
mendekati puncak tiba-tiba kabut tebal menyelimuti tubuh Burangrang, gerimis manis
menyapa sebentar dan mengantarkan kami tiba di Puncak Meong, Puncak Triangulasi pun
melambai yang memerlukan waktu 5 menit lagi untuk sampai.
Kami pun tiba di Puncak Triangulasi bertepatan dengan berkumandangnya adzan dzuhur,
tak ada siapa-siapa selain kami berdelapan dan kabut tebal yang mengepung di sekeliling
dengan jarak pandang hanya 5 meter saja, tak ada pemandangan yang terlihat. Kami
memulihkan napas sambil menghabiskan satu bungkus biskuit yang dibawa saudaraku,
untunglah ada pengganjal, sebab masing-masing perut kami sudah keroncongan dan tak
berbekal apapun selain minum. Kami memutuskan tak akan berlama-lama dipuncak untuk
melaksanakan sholat dzuhur di masjid yang ada di bawah, selain karena tak membawa
peralatan salat, persediaan air pun sudah habis dan cuaca yang kurang baik mengurungkan
niat kami untuk melaksanakan salat di puncak, serta memperkirakan waktu tempuh untuk
turun akan lebih cepat dibandingkan naik. Saat hendak beranjak, seorang bapak tiba dari
jalur Legok Haji seorang diri, ramah tuturnya menyapa kami, hanya berbekal air minum 1,5
liter dan memutar mp3 murratal tilawah Al-Qur’an sepanjang perjalanan. Ada yang masih
selalu kuingat sampai saat ini, sebelum kami turun ia berkata “Kalau sudah senang naik
gunung, coba rutinkan minimal setahun sekali agar otot-ototnya terlatih dan tidak kaku.
Sering-sering tafakur, supaya ada oleh-oleh pulang ke rumah gak cuma bawa capek aja.
Satu pohon punya banyak daun, kita bikin satu aja gak bisa ya? Maha Besar Allah yang
menciptakan segalanya begitu sempurna, setiap daun yang jatuh, kering dan basahnya
Allah tau, apa yang sering kita khawatirkan tentang hidup? Padahal semua telah diatur
sempurna oleh Sang Pencipta, tinggal kita yakin dan patuh saja, kan?”. Lalu ia
melaksanakan salat di puncak sendirian dan kami lekas turun sebab gerimis kembali
menerjang.
Dan lalu, ini hanya interpretasi dari seorang aku yang amat awam dan fakir ilmu, sejak
perjalananku pertama kali ke hutan 2011 lalu, aku merasa hutan tak sekedar tanah luas
yang ditumbuhi pepohonan dan rupa-rupa vegetasi, ragam fauna dan nyanyian alam, lebih
dari itu, aku merasa hutan adalah Ibu yang mengasuh jiwaku, mengajarkanku, mengasah
nalarku, juga menyembuhkan segala bentuk lukaku. Sebab inikah Tuhan menjemput Ibuku
lebih dulu 2010 lalu? Walau kini kesan gunung tak lebih dari studio foto dan spot selfieable
demi menaikan feeds media sosial, tapi aku yakin, masih ada jiwa-jiwa tulus yang
menyambangi gunung sebab hasrat dan cinta, bukan pencitraan semata. Bagaimanapun,
diyakini atau tidak, gunung telah ikut serta membangun karakter pribadiku yang sekarang,
setiap perjalanan memberiku pelajaran baru dan mengubah cara pandangku tentang hidup
dengan segala problematikanya. Perjalanan ke puncak Burangrang yang berkesan
mendorongku untuk terus melakukan perjalanan ke lebih banyak tujuan, bagiku perjalanan
kala itu tak seperti sedang naik gunung, aku merasa sedang wisata rohani menuju jamuan
rahmat Tuhan dan berpulang dengan beragam kebaikan yang harus disebarkan kepada
sebanyak-banyaknya makhluk, dalam bentuk apapun. Dan kemudian aku hanya ingin terus
berjalan mencari manik-manik makna kehidupan, perlahan-lahan menuju apa-apa saja yang
ingin kutemukan, dengan sebersih-bersihnya hati yang terus dirawat, semoga sampai tujuan
dengan selamat.

.jpeg)


Komentar
Posting Komentar