DERAI
Sore itu di penghujung 2018 sepulang bekerja, di atas roda dua yang melaju pelan melintasi tanjakan, semburat mega menyusupi celah reranting pohon dari banyak arah, membelai wajah-wajah yang lalu lalang di jalanan berpadu lelah.
Aku dan Bapak biasa diskusi banyak hal dalam perjalanan. Sepeninggal Mamah, kami menjadi lebih dekat, sikap terbuka pada anak perempuannya membuatnya tak sungkan bercerita apa saja tentang kegelisahannya.
Entah sedang membahas apa kala itu aku lupa, hingga tiba ucapnya pada sebuah pernyataan yang tak pernah ingin ku lupa, "kalau melihat anak-anak Bapak bersedih, atau kalau ada yang menyakiti anak Bapak, sebenarnya Bapak yang lebih dulu sakit hati"
Tanpa aba-aba derai air mataku deras tak tertahan.
"Bahkan setelah pernikahan. Dulu Bapak berpikir saat menikahkan Tetehmu, Bapak melepas tanggung jawab dan lebih tenang. Bapak senang saat anak Bapak mandiri, lalu dibawa suaminya. Tapi ternyata kadang Bapak ingin dekat-dekat. Kepikiran anak Bapak bahagia gak? Suaminya kasar gak? Makan cukup gak? Ternyata memikirkan kalian tak pernah ada habisnya."
Kupalingkan wajah menyembunyikan tangis, sejak saat itu, aku tak pernah ingin tampak menyedihkan dihadapannya.


Komentar
Posting Komentar