EPILOG TUTUP TAHUN
Ini mungkin bukan satu-satunya tahun yang menguras habis energiku, tapi harus kuakui, tahun ini banyak hal luar biasa berat bertubi-tubi.
Kurasa, baik dan buruk hanyalah variabel yang mengacu pada persepsi dan sempitnya pemahaman, yang lalu mempengaruhi respon dalam mengambil keputusan.
Bahagia yang kita lihat pada diri orang lain, belum tentu sama bahagianya ketika itu menimpa kita. Pun kesulitan yang dihadapi orang lain, belum tentu kita lebih kuat menghadapi kesulitan yang sama. Qodarullah, kapasitas masing-masing kita berbeda.
Pada apa-apa saja yang tidak ditakdirkan untukku, aku ingin berterimakasih, sebab dengan begitu aku belajar menggali syukur dan menambang sabar lebih dalam.
Pada apa-apa saja yang telah hadir, aku ingin meminta maaf, sebab seringkali hadirmu tak ku sambut dengan baik, bahkan beberapa diantaranya kutepis dan kuabaikan hanya karena hadirmu tak sesuai dengan apa yang kumau. Hanya karena hadirmu kuanggap sebagai kesedihan dan kehilangan. Meski kemudian aku menerimamu selapang-lapangnya, tetapi juga mungkin saja, aku sebenarnya melewatkan banyak kesempatan, hanya karena ketidakpandaianku menyikapinya dengan sudut pandang yang tepat.
Pada segala yang melewatkanku, atau justru aku lewatkan, aku tak ingin khawatir. Sebab mungkin memang bukan itu tujuanku diciptakan, bukan itu yang sebenarnya hatiku mau. Mungkin aku memang takkan pernah benar-benar tau apa yang diriku mau, apa yang Tuhan mau (?)
Mengikuti kata hati memanglah petualangan yang tiada habisnya. Terlalu belantara. Bagaimana bisa kita memanipulasi keyakinan dengan menduga-duga, sedang Allah tak serta merta mengabulkan doa dari hati yang lalai dan tergesa.
Dengan pencahayaan yang remang dan hati yang serba ketakutan, aku terus mencari hingga menemukan hal-hal sederhana namun luar biasa berharga yang terkubur dalam diriku sejak lama. Aku pulang, menggali lebih dalam, kedalam aku. Hey ternyata aku punya. Banyak bahkan.
Pada akhirnya segala yang kulahap habis di tahun ini, menggiringku pada satu titik ruang bernama ikhlas tanpa batas. Ruang yang lapang dan tenang.
Aku belajar dan menyadari bahwa apa saja yang ada padaku saat ini, adalah sebaik-baik komposisi yang menjadikan aku sebagai lakon tunggal dalam peranku di dunia. Tak ada siapapun yang serupa. Tepat sesuai takaran-Nya. Dan itu cukup.
Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah
Hamdan katsiran thoyyiban mubaarakan fiih🤍


Komentar
Posting Komentar